
Samarinda – Alhamdulillah, umrah mandiri perdana di Kalimantan akhirnya tuntas dilaksanakan. Perjalanan ibadah selama 16 hari ini berjalan lancar dan para jemaah tiba dengan selamat di Indonesia pada 2 Februari, mendarat di Jakarta dengan wajah lega sekaligus bahagia.
Program umrah mandiri ini menjadi pengalaman baru bagi para jemaah. Sejak awal, mereka diajak untuk mandiri dan cakap mengurus berbagai kebutuhan sendiri, mulai dari bandara hingga aktivitas harian di Tanah Suci. Meski mengusung konsep mandiri, paket ini tetap terasa nyaman karena sudah termasuk fasilitas makan tiga kali sehari. Alhasil, jemaah mengaku lebih santai dan tidak ribet.
Mayoritas jemaah berasal dari Samarinda, Sulawesi Barat, Balikpapan, Bogor, Bandung, hingga Jakarta. Mereka sepakat satu hal: umrah mandiri ini terasa lebih fleksibel dan menyenangkan karena tidak terikat jadwal ketat. Bahkan, hanya dalam dua hari, para jemaah sudah hafal rute menuju hotel baik di Madinah maupun di Makkah.

Program ini diselenggarakan oleh PT Nur Ahmad Lompo (bin Sahel) yang bekerja sama dengan PT Alhaq. Menariknya, travel ini dikelola para owner perempuan yang disebut para jemaah sangat lincah, cekatan, dan komunikatif. Tak heran jika suasana perjalanan terasa hangat dan penuh kebersamaan.
“Jemaah benar-benar happy. Mereka merasa bebas, nyaman, dan ibadahnya lebih khusyuk,” ujar salah satu owner, Syarifah Nurul Husnul Khatimah, yang akrab disapa jemaah dengan panggilan Myma.
Selain durasi umrah yang relatif panjang, yakni 16 hari, keistimewaan lain dari paket ini adalah kemudahan akses Raudhah. Tanpa aplikasi, jemaah sudah mendapatkan satu kali jatah masuk Raudhah langsung dari pihak Saudi melalui muasasah. Selebihnya, jemaah tetap bisa masuk Raudhah berkali-kali dengan menggunakan aplikasi Nusuk.
Tak hanya itu, travel ini juga melayani keberangkatan umrah reguler seperti travel lainnya, bahkan menyediakan program haji langsung tanpa antre dengan kerja sama resmi bersama pihak Arab Saudi. Soal transparansi, pihak travel menegaskan semua paket dijual apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Menariknya lagi, salah satu jemaah disebut merupakan kerabat dekat pejabat daerah, yang ikut merasakan langsung pengalaman umrah mandiri ini.

Selama di Tanah Suci, jemaah juga mengikuti city tour ke sejumlah lokasi bersejarah, seperti Kebun Kurma, Masjid Quba, Jabal Tsur, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Mina, Jabal Khandamah, Museum Wahyu, Gua Hira, hingga pemakaman Baqi. Semua kegiatan dilakukan secara fleksibel dan penuh kesepakatan bersama. Mau ikut, ayo. Tak ikut pun tak masalah, jemaah bisa memilih beribadah di masjid.
“Kuncinya itu sabar, cekatan, dan kompak,” kata sang owner. Sementara dari para jemaah, satu kalimat yang paling sering terdengar adalah, “Pokoknya mau lagi umrah mandiri.”
Sebuah pengalaman ibadah yang bukan cuma menguatkan spiritual, tapi juga menumbuhkan kemandirian dan kebersamaan. (As)