
Quiet Ambition:
Persepektif Gen-Y dan Gen-Z Memaknai Ambisi
Samarinda – Dalam beberapa waktu terakhir, muncul satu konsep yang semakin banyak diperbincangkan di berbagai media dan riset global yaitu quiet ambition. Istilah ini merujuk pada perubahan cara generasi muda memaknai ambisi. Jika generasi sebelumnya identik dengan ambisi yang terlihat jelas mengejar jabatan, status, dan karier korporat maka generasi saat ini cenderung memilih ambisi yang lebih personal, fleksibel, dan tidak selalu terlihat secara publik. Fenomena ini terutama terlihat pada Generasi Y (Millennials) dan Generasi Z, dua generasi yang kini mulai mendominasi dunia kerja global. Ada anggapan bahwa generasi muda semakin tidak ambisius. Namun data justru menunjukkan hal yang berbeda. Survei CNBC-SurveyMonkey Workforce Survey (2024) menemukan bahwa 92% pekerja Gen Z menyatakan mereka tetap menghargai pekerjaan yang menantang dan bermakna, meskipun tingkat keterlibatan kerja mereka cenderung lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Sementara itu, laporan SurveyMonkey Workplace Trends (2025) menunjukkan bahwa 80% pekerja Gen Z menyatakan ingin mencapai posisi kepemimpinan suatu saat dalam karier mereka, lebih tinggi dibanding Gen X yang hanya sekitar 57%. Data ini menunjukkan bahwa ambisi generasi muda sebenarnya tetap tinggi.
Namun cara mereka mengejar ambisi tersebut berbeda.
Alih-alih mengejar tangga karier secara linear seperti generasi sebelumnya, banyak pekerja dari kalangan Gen-Y dan Gen-Z kini memilih jalur karier yang lebih fleksibel dan adaptif. Mereka tidak lagi memandang kesuksesan hanya melalui promosi jabatan di dalam organisasi, tetapi juga melalui berbagai bentuk pengembangan diri dan kemandirian ekonomi. Sebagian dari mereka mengembangkan side hustle atau pekerjaan sampingan sebagai sumber pendapatan tambahan sekaligus ruang untuk menyalurkan minat dan kreativitas. Tidak sedikit pula yang memilih membangun usaha kecil secara mandiri, baik di sektor digital, ekonomi kreatif, maupun layanan berbasis komunitas. Selain itu, generasi ini juga sangat menekankan pentingnya peningkatan kompetensi dengan terus mengembangkan keterampilan baru yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja. Di sisi lain, banyak dari mereka yang secara sadar memilih pekerjaan yang memberikan makna personal, seperti pekerjaan yang selaras dengan nilai hidup, memberi dampak sosial, atau memungkinkan keseimbangan antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi. Bagi generasi ini, karier bukan lagi sekadar perjalanan menuju jabatan tertentu, melainkan proses menemukan pekerjaan yang bermakna dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Fenomena ini bahkan membuat Gen Z dijuluki sebagai “the side hustle generation”, karena sekitar 57% dari mereka memiliki pekerjaan sampingan sebagai sumber pendapatan tambahan. Dengan kata lain, mereka tetap ambisius tetapi ambisinya tidak selalu terikat pada jabatan formal di perusahaan.
Ambisi yang Lebih Sunyi
Inilah yang kemudian disebut sebagai quiet ambition. Ambisi ini tidak selalu terlihat dalam bentuk kompetisi jabatan atau upaya meraih status sosial yang tinggi di dalam organisasi. Sebaliknya, ambisi tersebut lebih banyak muncul dalam bentuk tujuan karier yang bersifat personal dan berkelanjutan. Banyak pekerja dari kalangan Gen-Y dan Gen-Z berusaha membangun karier yang tidak hanya cepat naik, tetapi juga stabil dan relevan dalam jangka panjang dengan terus meningkatkan kompetensi serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan dunia kerja. Pada saat yang sama, mereka juga semakin menaruh perhatian besar pada keseimbangan antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi (work-life balance), sehingga pekerjaan tidak lagi mendominasi seluruh aspek kehidupan mereka. Selain itu, generasi ini cenderung mencari pekerjaan yang memiliki makna personal, yakni pekerjaan yang tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga memberikan rasa tujuan, kontribusi sosial, atau keselarasan dengan nilai hidup yang mereka yakini. Di sisi lain, fleksibilitas kerja juga menjadi salah satu bentuk ambisi baru yang mereka kejar, baik dalam bentuk pilihan lokasi kerja, waktu kerja yang lebih dinamis, maupun peluang untuk mengatur ritme karier sesuai dengan prioritas hidup masing-masing. Dengan demikian, ambisi generasi ini tidak hilang, melainkan berubah menjadi lebih tenang, lebih reflektif, dan lebih berorientasi pada kualitas hidup.
Sebagai contoh, survei Gallup dan Deloitte (2025) menunjukkan bahwa 89% pekerja Gen Z menganggap tujuan atau makna pekerjaan sebagai faktor utama kepuasan kerja, bahkan lebih penting daripada jabatan atau status organisasi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma tentang kesuksesan. Jika sebelumnya kesuksesan sering diukur dari posisi struktural atau besarnya gaji, generasi baru lebih menilai kesuksesan dari kualitas hidup, kebebasan bekerja, dan peluang berkembang. Perubahan ini tidak muncul tanpa sebab. Generasi Y dan Z tumbuh di tengah perubahan besar: krisis ekonomi global, pandemi, transformasi digital, hingga revolusi kecerdasan buatan. Bahkan laporan Forbes (2025) menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan entry level secara global turun sekitar 29% sejak awal 2024, membuat jalur karier tradisional menjadi semakin tidak pasti. Situasi ini membuat generasi muda lebih realistis dalam merancang karier mereka. Alih-alih bergantung pada satu perusahaan atau satu jalur karier, mereka lebih memilih strategi karier yang adaptif, multi-sumber penghasilan, dan berbasis keterampilan. Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, fenomena ini sebenarnya mencerminkan transformasi nilai kerja dari career driven menjadi purpose driven. Career driven menggambarkan pola pikir kerja yang berorientasi pada pencapaian karier formal. Dalam paradigma ini, kesuksesan biasanya diukur dari indikator-indikator yang bersifat struktural, seperti kenaikan jabatan, status dalam organisasi, besaran gaji, serta posisi dalam hierarki perusahaan. Model ini sangat dominan pada generasi pekerja sebelumnya, di mana banyak orang memandang karier sebagai proses menaiki tangga organisasi (career ladder) secara bertahap dari posisi junior hingga posisi manajerial atau eksekutif. Loyalitas terhadap perusahaan dalam jangka panjang juga sering menjadi bagian dari pola pikir ini. Sebaliknya, purpose driven menggambarkan orientasi kerja yang lebih menekankan pada makna, nilai, dan tujuan personal dari pekerjaan itu sendiri. Dalam pendekatan ini, seseorang tidak hanya bertanya “seberapa tinggi posisi yang bisa saya capai?”, tetapi juga “apakah pekerjaan ini memberi makna bagi hidup saya?”. Oleh karena itu, indikator kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari jabatan atau pendapatan, tetapi juga dari sejauh mana pekerjaan tersebut memberikan dampak positif, kesempatan berkembang, fleksibilitas hidup, serta keselarasan dengan nilai pribadi.
Perubahan orientasi ini sangat terlihat pada Gen-Y dan Gen-Z, yang cenderung lebih selektif dalam memilih pekerjaan. Banyak dari mereka bersedia meninggalkan pekerjaan dengan gaji tinggi jika pekerjaan tersebut tidak memberikan ruang berkembang, tidak selaras dengan nilai hidup mereka, atau tidak memungkinkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Dengan kata lain, pekerjaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai sarana mencari nafkah atau mencapai status sosial, tetapi juga sebagai bagian dari proses menemukan makna dan tujuan hidup. Pergeseran dari career-driven ke purpose-driven ini menjadi sinyal penting bagi organisasi. Perusahaan tidak cukup hanya menawarkan jenjang karier yang jelas, tetapi juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan belajar, fleksibilitas kerja, dan budaya organisasi yang menghargai nilai serta aspirasi karyawan. Tanpa itu, perusahaan akan semakin sulit menarik dan mempertahankan talenta muda di dunia kerja.
Ambisi Generasi Muda di Tengah Realitas Pasar Kerja Indonesia
Fenomena perubahan cara generasi muda memaknai ambisi juga dapat dilihat di Indonesia. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa generasi muda merupakan kelompok demografis yang sangat besar dalam struktur penduduk nasional. Generasi Z tercatat mencapai sekitar 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi Indonesia, sehingga menjadikannya kelompok generasi terbesar dalam komposisi penduduk saat ini. Namun di tengah potensi demografi yang besar tersebut, generasi muda juga menghadapi tantangan serius di pasar kerja. BPS mencatat bahwa pada Agustus 2023 terdapat sekitar 9,9 juta penduduk usia 15–24 tahun yang masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, and Training), yakni tidak bekerja, tidak sedang bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Jumlah tersebut setara dengan 22,25% dari total sekitar 44,47 juta penduduk usia muda di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian generasi muda menghadapi kesulitan dalam memasuki pasar kerja formal maupun memperoleh kesempatan peningkatan keterampilan.
Situasi tersebut juga tercermin dari data pengangguran nasional. Dalam laporan ketenagakerjaan terbaru BPS tahun 2025, dari sekitar 7,28 juta pengangguran di Indonesia, sekitar 3,55 juta berasal dari kelompok usia 15–24 tahun, yang berarti kelompok usia muda menjadi penyumbang terbesar dalam angka pengangguran nasional. Fakta ini menunjukkan bahwa transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi tantangan struktural bagi generasi muda di Indonesia. Dalam kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif dan tidak pasti tersebut, tidak mengherankan jika sebagian generasi muda mulai mendefinisikan ulang cara mereka membangun karier. Alih-alih hanya mengejar jalur karier formal yang kerap terbatas, banyak anak muda Indonesia mulai mengeksplorasi alternatif lain seperti pekerjaan berbasis digital, ekonomi kreatif, kewirausahaan, hingga berbagai bentuk pekerjaan fleksibel di platform digital. Pilihan tersebut bukan semata karena menurunnya ambisi, tetapi justru merupakan bentuk adaptasi generasi muda terhadap dinamika ekonomi dan transformasi dunia kerja yang semakin cepat. Dengan kata lain, fenomena quiet ambition dalam konteks Indonesia tidak hanya mencerminkan perubahan nilai generasi muda, tetapi juga merupakan respons rasional terhadap kondisi struktural pasar kerja yang terus berubah. Generasi muda tetap memiliki ambisi untuk berkembang dan mencapai kesuksesan, namun mereka mengekspresikan ambisi tersebut dengan cara yang lebih adaptif, fleksibel, dan selaras dengan realitas dunia kerja saat ini.
Saya melihat bahwa quiet ambition bukanlah tanda melemahnya etos kerja generasi muda. Sebaliknya, fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda sedang mendefinisikan ulang arti kesuksesan dalam dunia kerja yang semakin tidak pasti. Generasi sebelumnya mungkin membangun karier dengan filosofi climb the ladder.
Namun generasi sekarang lebih memilih design your own path. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada naiknya posisi dalam organisasi, tetapi lebih menekankan pada kemampuan untuk membangun perjalanan karier yang selaras dengan aspirasi pribadi, perkembangan diri, dan dinamika dunia kerja yang terus berubah. Quiet ambition pada akhirnya bukanlah fenomena negatif, tapi justru mencerminkan pergeseran paradigma kerja di era modern. Generasi Y dan Z tetap ambisius bahkan mungkin lebih ambisius daripada generasi sebelumnya namun mereka mengejar ambisi tersebut dengan cara yang lebih tenang, lebih personal, dan lebih berorientasi pada kualitas hidup. Dalam dunia kerja yang terus berubah, mungkin inilah bentuk ambisi yang paling relevan untuk masa depan.
![]()